Langsung ke konten utama

Postingan

Pentingnya Berkebudayaan

  Berkebudayaan adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Budaya mencakup nilai-nilai, adat istiadat, seni, bahasa, dan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Seiring dengan perkembangan zaman, budaya menjadi semakin penting karena memberikan identitas dan jati diri bagi suatu bangsa atau masyarakat. Namun, di era modern ini, kebudayaan seringkali diabaikan atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang kurang penting. Banyak orang cenderung lebih memilih mengikuti budaya barat atau budaya global yang sedang trend daripada mempelajari dan melestarikan budaya lokal mereka. Padahal, keberadaan budaya lokal sangat penting untuk memperkuat keberagaman dan kekayaan suatu masyarakat. Pentingnya Berkebudayaan Menjaga identitas budaya Budaya lokal yang unik merupakan identitas suatu masyarakat. Melalui keberagaman budaya, kita dapat memahami asal usul dan sejarah suatu daerah. Dengan melestarikan budaya lokal, kita juga dapat menjaga keberagaman dan identitas bud...
Postingan terbaru

Puasa lelaku dalam ke ilmuan jawa

   Puasa pada hakikatnya adalah tidak makan dan tidak minum, namun selain itu juga puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu yang membelenggu dalam diri manusia.      Puasa sendiri berasal dari bahasa arab yang pengucapan nya adalah syium atau shoim dan shaum. Yang bahasa jawa sendiri adalah siam atau poso.     Dalam kebudayaan jawa puasa ini sudah ada sejak zaman kerajaan pada waktu itu sebagai contoh ketika zaman kerajaan majapahit prabu gajah mada juga melakukan puasa untuk mencapai keinginan nya menyatukan nusantara dan mengucapkan sumpah palapa.     Sebelum islam masuk pulau jawa puasa ini di jadikan metode untuk mendekatkan diri pada sang hyang widi ataupun juga untuk suatu amalan keilmuan seperti kanuragan, rawa rontek, pancasona dan masih banyak lagi ke ilmuan yang lain nya.     Dengan syarat tertentu puasa untuk ke ilmuan ini banyak sekali macam nya di antara nya adalah.: 1. Puasa Mutih...

Makam mbah ageng mayangsari

LEGENDA ASAL USUL DESA PESANGGRAHAN Pesanggrahan, pada zaman dahulu adalah merupakan sebuah tempat dimana para Petinggi Kerajaan beristirahat dalam perjalanannya. Konon para Raja, Ratu, Adipati dan Punggawa Kerajaan antara lain Raja Mataram bersama para istri selirnya sering melaksanakan permandian di sumber mata air panas Songgoriti dan kemudian beristirahat atau “Mesanggrah” [bahasa Jawa] di daerah yang sekarang adalah Desa Pesanggrahan. Geografis wilayah Pesanggrahan yang terletak di kaki lereng Gunung Panderman dengan panorama yang indah serta hawanya yang sangat sejuk saat itu menjadikan daya tarik tersendiri bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan untuk beristirahat di tempat ini, maka pada akhirnya daerah ini dinamakan “DESA PESANGGRAHAN.” Dalam era perkembangannya, karena tingkat pertambahan penduduk yang meningkat dengan perkembangan sosial budaya masyarakat yang semakin tinggi dengan norma kehidupan masyarakat yang diatur berdasarkan tatanan pemerintahan, ...

Makam mbah patok / petilasan mpu supo

Makam mbah patok  Ki Ageng Puspo atau Mbah Pathok. Dikenal sebagai murid Mbah Mbatu atau biasa di sebut pangeran Rojoyo, penyiar Islam di Batu. Setelah meninggalkan kerajaan Mataram, dia begabung mendapingi syiar Isalam Mbah Mbatu. Ki Ageng Puspo sangat patuh kepada Mbah Mbatu. Saat mendatangi makam Ki Ageng Puspo di kawasan Songgoriti Kota Batu. Makam itu cukup bagus dan terawat seperti makam pemuka agama Islam, makam ini trerletak dalam sebuah bangunan. Mbah Pathok dimakamkan di banguanan yang mirip rumah bercat kuning dipandu hijau, kondisinya sangat bersih, terlihat selalu di rawat secara rutin. Ki Ageng Puspo datang kedaerah Batu sekitar abad ke 18. Sebenarnya beliau adalah salah seorang prajurit Mataram kala itu.  sedang dilanda perang melawan belanda, tapi kemuidian, Ki Ageng Puspo menyusul Mbah Mbatu ke daerah Batu. Dia turut membantu penyiaran Islam di Kota Apel tersebut.  Kebanyakan dulu di sisni belum beragama Islam ujar Supardi juru kunci ma...

Makam ki ageng gribig

ki ageng gribik adalah cucu dari prabu brawijaya kerajaan majapahit    Makam Ki Ageng Gribig  adalah situs berupa makam yang terletak di dukuh Jatinom, desa Jatinom, kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten dan saat ini menjadi tempat ziarah dan untuk orang mengalap berkah. Menyebut nama Ki Ageng Gribig, bayangan banyak orang akan langsung tertuju ke Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Memang, di Desa Krajan yang masuk wilayah kecamatan ini, setiap tahun digelar “yaqowiyu”, sebuah ritual yang mentradisi berkat amanatnya. Di kecamatan yang sama, tepatnya di Dukuh Jatinom, Desa Jatinom, juga terdapat bangunan batu merah dan kayu yang dipercaya sebagai makamnya. Namun bagi masyarakat Keca­matan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, makam Ki Ageng Gribig ada di daerah mereka. Tepat­nya di sebuah kampung yang namanya juga mengambil nama tokoh tersebut; Jalan Ki Ageng Gribig Gang II. Makam yang diyakini sebagai perisitirahatan terakhirnya, berada dalam satu komplek den...

Punden Mbah batu

punden mbah batu      punden / makam yang terletak di desa bumiaji kota batu jawa timur ini menyimpan banyak cerita mulai dari cerita mistis dan sejarah peradaban kota batu mulai jaman majapahit hingga zaman kolonial belanda. Di dalam Kompleks Makam Mbah Mbatu terdapat tokoh-tokoh yang diyakini warga merupakan penyebar Islam di Kota Batu. Kondisi kompleks makam ini sangat terawat dengan lantai keramik putih bersih di sekeliling area makam. Bangunan makam juga dilengkapi dengan tempat shalat dan mengaji bagi para peziarah. Tiap makam pun sudah dipagari dan dilengkapi dengan kelambu transparan warna putih. Mbah Mbatu sendiri merupakan nama panggilan Pangeran Rojoyo yang merupakan putra Sunan Kadilangu, cucu Sunan Mulyo, dan cicit Sunan Kalijogo. Ia melakukan penyebaran agama Islam dengan cara berkumpul bersama warga untuk membahas dan berdiskusi tentang Islam. Pangeran Rojoyo termasuk penyebar agama Islam yang terkenal, sehingga mendapat julukan Syekh Abul Ghonai...