Langsung ke konten utama

Makam mbah patok / petilasan mpu supo


Makam mbah patok 



Ki Ageng Puspo atau Mbah Pathok. Dikenal sebagai murid Mbah Mbatu atau biasa di sebut pangeran Rojoyo, penyiar Islam di Batu. Setelah meninggalkan kerajaan Mataram, dia begabung mendapingi syiar Isalam Mbah Mbatu. Ki Ageng Puspo sangat patuh kepada Mbah Mbatu.
Saat mendatangi makam Ki Ageng Puspo di kawasan Songgoriti Kota Batu. Makam itu cukup bagus dan terawat seperti makam pemuka agama Islam, makam ini trerletak dalam sebuah bangunan. Mbah Pathok dimakamkan di banguanan yang mirip rumah bercat kuning dipandu hijau, kondisinya sangat bersih, terlihat selalu di rawat secara rutin.



Ki Ageng Puspo datang kedaerah Batu sekitar abad ke 18. Sebenarnya beliau adalah salah seorang prajurit Mataram kala itu.  sedang dilanda perang melawan belanda, tapi kemuidian, Ki Ageng Puspo menyusul Mbah Mbatu ke daerah Batu. Dia turut membantu penyiaran Islam di Kota Apel tersebut. 

Kebanyakan dulu di sisni belum beragama Islam ujar Supardi juru kunci makam Mbah Pathok. Beliau memutuskan mengabdi pada Mbah Mbatu dengan menjadi khodamnya (pembantu). Selama menjadi khodam, Ki Ageng Puspo lebih sering menjadi penimba air, tugasnya menyediakan air bagi kebutuhan pondok pesantren sang guru. Kegiatan itu di lakoni saban hari .






Tanpa mengenal rasa lelah dan keluh “Mbah Pathok benar-benar tulus mengabdi mencari barrokah sang guru. Bahkan murid-murid lain banyak yang membantu mengajar ngaji para santri, Ki Ageng Puspo tetap tunduk melaksanakan tugasnya sebagai pengambil air. Padahal jika di pinta membantu penyiaran Islam, beliaupun sanggup, Saking taatnya itu , 
dia di percaya Mbah Mbatu sendiri, Terbukti Mbah Mbatu tak sekalipun mengambil airnya, kopentasi dan ke taatan sebagai pengambil dan penyedia air telah di akui” sehingga tak sekalipun ada yang nggantikan beliau.



Bahkan konon, akhir hayat Mbah Pathok, telah di prediksi Mbah Mbatu. Ceritanya takala itu Mbah Mbatu memerintahkan Ki Ageng Puspo untuk mengambil air hangat di daerah Songgoriti. Saat Ki Ageng Puspo beranjak keluar. Mbah Mbatu mengucapkan kalimat Innalillahi Wainnailahi Rojiun. Nah ketika sampai di daerah sumber air songgoriti itu, insiden trejadi. Seusai mengambil air Mbah Pathok terpeleset dan jatuh. Akhirnya meninggal di tempat itu Maka di putuskan dia di makamkan di Songgoriti oleh Mbah Mbatu. Adanya makam bernisan ini pun mengundang ke heranan para penduduk lokal yang mayoritas hindu. Sebab mereka hanya mengenal tradisi bahwa yang meninggal di bakar. Akhirnya penduduk setempat menamainya makam Mbah Pathok. Nama itu terkenal hingga sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punden Mbah batu

punden mbah batu      punden / makam yang terletak di desa bumiaji kota batu jawa timur ini menyimpan banyak cerita mulai dari cerita mistis dan sejarah peradaban kota batu mulai jaman majapahit hingga zaman kolonial belanda. Di dalam Kompleks Makam Mbah Mbatu terdapat tokoh-tokoh yang diyakini warga merupakan penyebar Islam di Kota Batu. Kondisi kompleks makam ini sangat terawat dengan lantai keramik putih bersih di sekeliling area makam. Bangunan makam juga dilengkapi dengan tempat shalat dan mengaji bagi para peziarah. Tiap makam pun sudah dipagari dan dilengkapi dengan kelambu transparan warna putih. Mbah Mbatu sendiri merupakan nama panggilan Pangeran Rojoyo yang merupakan putra Sunan Kadilangu, cucu Sunan Mulyo, dan cicit Sunan Kalijogo. Ia melakukan penyebaran agama Islam dengan cara berkumpul bersama warga untuk membahas dan berdiskusi tentang Islam. Pangeran Rojoyo termasuk penyebar agama Islam yang terkenal, sehingga mendapat julukan Syekh Abul Ghonai...

Puasa lelaku dalam ke ilmuan jawa

   Puasa pada hakikatnya adalah tidak makan dan tidak minum, namun selain itu juga puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu yang membelenggu dalam diri manusia.      Puasa sendiri berasal dari bahasa arab yang pengucapan nya adalah syium atau shoim dan shaum. Yang bahasa jawa sendiri adalah siam atau poso.     Dalam kebudayaan jawa puasa ini sudah ada sejak zaman kerajaan pada waktu itu sebagai contoh ketika zaman kerajaan majapahit prabu gajah mada juga melakukan puasa untuk mencapai keinginan nya menyatukan nusantara dan mengucapkan sumpah palapa.     Sebelum islam masuk pulau jawa puasa ini di jadikan metode untuk mendekatkan diri pada sang hyang widi ataupun juga untuk suatu amalan keilmuan seperti kanuragan, rawa rontek, pancasona dan masih banyak lagi ke ilmuan yang lain nya.     Dengan syarat tertentu puasa untuk ke ilmuan ini banyak sekali macam nya di antara nya adalah.: 1. Puasa Mutih...