Langsung ke konten utama

Makam ki ageng gribig

ki ageng gribik adalah cucu dari prabu brawijaya kerajaan majapahit

  Makam Ki Ageng Gribig adalah situs berupa makam yang terletak di dukuh Jatinom, desa Jatinom, kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten dan saat ini menjadi tempat ziarah dan untuk orang mengalap berkah.

Menyebut nama Ki Ageng Gribig, bayangan banyak orang akan langsung tertuju ke Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Memang, di Desa Krajan yang masuk wilayah kecamatan ini, setiap tahun digelar “yaqowiyu”, sebuah ritual yang mentradisi berkat amanatnya. Di kecamatan yang sama, tepatnya di Dukuh Jatinom, Desa Jatinom, juga terdapat bangunan batu merah dan kayu yang dipercaya sebagai makamnya.
Namun bagi masyarakat Keca­matan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, makam Ki Ageng Gribig ada di daerah mereka. Tepat­nya di sebuah kampung yang namanya juga mengambil nama tokoh tersebut; Jalan Ki Ageng Gribig Gang II. Makam yang diyakini sebagai perisitirahatan terakhirnya, berada dalam satu komplek dengan makam beberapa bupati Malang tempo dulu.
Seperti makam di Jatinom, ma­kam Ki Ageng Gribig di Kedung Kan­dang ini juga sangat dikeramatkan. Pada malam-malam tertentu, teruta ma malam Jum’at Legi, selalu saja ada peziarah yang meramaikan makamnya. Berbagai macam berkah tentu mereka harapkan, mulai keselamatan, penglarisari, gampang rejeki, hingga kebahagiaan lahir batin.
Beberapa waktu lalu, banyak pula orang yang datang ke makam ini untuk berburu pusaka. Berbagai pusaka memang diyakini banyak tersimpan di makam yang lokasinya tidak jauh dari Perumnas Sawojajar, Kota Malang ini. “Pernah ada yang berbasil mengambil keris di sini, Mas,” ungkap Thoyibi (84), juru kunci makam.
Menurut laki-laki yang sudah menjadi juru kunci sejak 1951 tersebut, tidak diketahui pasti apakah sekarang masih terdapat pusaka-pusaka lainnya. Satu yang pasti, Makam Ki Ageng Gribig tetap dikunjungi pe­ziarah saat malam-malam utama dalam kepercayaan Jawa. Termasuk oleh mereka yang sedang memburu karir atau jabatan pemerintahan. “Beberapa bupati pernah sowan ke sini saat masa pencalonan mereka,” kata Thoyibi.
Kedatangan mereka bisa jadi karena adanya makam-makam bupa­ti Malang terdahulu di komplek ma­kam ini. Di sini para calon pejabat tersebut memang tidak hanya berziarah ke makam Ki Ageng Gribig, tapi juga ke pusara para bupati. Bupati-bupati Malang tempo dulu terse­but adalah RAA. Notodiningrat (bu­pati I dan II), serta RTA. Notodining­rat (bupati III).
Masing-masing makam bupati tersebut dilindungi oleh cungkup berbentuk bangunan yang sangat kokoh. Di dalam setiap cungkup terdapat pu­la puluhan makam kerabat para bu­pati tersebut. Dalam papan putih yang terdapat di dekat pintu masuk cungkup bupati pertama misalnya, tertulis “Makam RAA Notodiningrat Bupati Malang Ke I Serta 25 Makam Kerabat Terdekat”.


Makam Ki Ageng Gribig juga di­lindungi bangunan cungkup meski ukurannya tak sebesar 3 makam bupati. Di dalamnya pun hanya terda­pat 2 makam, dirinya dan istri. Berbeda dengan makam para bupati dan makam-makam lainnya, makam suami istri ini tidak bernisan. Hanya berupa dua gundukan tanah, dengan timbunan bunga-bunga di atasnya dalam naungan kelambu warna putih.
Keturunan Brawijaya
Lalu siapa sebenarnya Ki Ageng Gribig yang dikuburkan di tempat ini? Menurut beberapa sumber, dia adalah cicit Raja Majapahit, Brawijaya. Ayahnya bernama Pangeran Kedawung, salah seorang keturunan Lembu Niroto. Konon Ki Ageng Gribig adalah sa­lah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.
Sebagai ulama, Ki Ageng Gribig sangat terkenal dan dihormati di wilayah Malang sekitar 1650an. Ketika sudah meninggal dunia pun, makamnya begitu dihormati dan dikeramatkan, termasuk oleh penguasa waktu itu. Bupati Malang pertama bahkan merasa pemerintahannya yang berjalan bagus karena berkah Ki Ageng Gribig. “Karenanya dia berpesan, bila meninggal dunia dikuburkan dekat makam Ki Ageng Gribig,” jelas Thoyibi.
Riwayat Ki Ageng Gribig versi Malang tersebut agak berbeda de­ngan yang ada di Jatinom, Klaten. Meski sama-sama disebut sebagai keturunan Brawijaya, Ki Ageng Gribig versi Jatinom disebut sebagai putra Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara. Versi lain menyebut, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim yang silsilah ke bawahnya menurunkan Maulana Ishaq, Sunan Giri, Sunan Prapen, dan Maulana Sulaiman (Ki Ageng Gribig).
Tokoh yang juga sering disebut sebagai Syekh Wasihatno itu menjadi pendakwah Islam dengan pusat di Desa Krajan, Jatinom, Klaten. Dia ju­ga termasuk tokoh yang berpengaruh karena memiliki hubungan dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusu- ma, raja Mataram. Bahkan Raden Ayu Emas, adik Sultan Agung, dinikahinya, hingga dirinya mendapat kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin tanah perdikan Mutihan di Jatinom.
Konon, Ki Ageng Gribig mampu melakukan perjalanan dari Jatinom ke Mekkah dalam waktu sangat singkat. Saking singkatnya, disebut bagai melempar batu, sehingga dia dapat pulang pergi Jatinom Mekkah setiap hari.
Suatu Jum’at di Bulan Safar, saat kembali dari perjalannya ke tanah suci, dia membawa oleh-oleh kue. Karena jumlahnya tidak mencukupi untuk dibagikan kepada penduduk, ia bersama istri kemudian membuat lebih banyak kue sejenis. Setelah jadi, sambil menyebarkan kue-kue kepada penduduk yang berebutaan, Ki Ageng meneriakkan “Ya Qowiyyu” (Tuhan, berilah kekuatan).
Kue tiruan dari Mekkah itu kemu­dian dikenal dengan nama apem, berasal dari kata bahasa Arab ‘Affan’ yang befmakna ampunan. Tradisi menyebar kue apemyang dimulai oleh Ki Ageng Gribig sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka itu kemudian diteruskan setelah dia meninggal du­nia.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punden Mbah batu

punden mbah batu      punden / makam yang terletak di desa bumiaji kota batu jawa timur ini menyimpan banyak cerita mulai dari cerita mistis dan sejarah peradaban kota batu mulai jaman majapahit hingga zaman kolonial belanda. Di dalam Kompleks Makam Mbah Mbatu terdapat tokoh-tokoh yang diyakini warga merupakan penyebar Islam di Kota Batu. Kondisi kompleks makam ini sangat terawat dengan lantai keramik putih bersih di sekeliling area makam. Bangunan makam juga dilengkapi dengan tempat shalat dan mengaji bagi para peziarah. Tiap makam pun sudah dipagari dan dilengkapi dengan kelambu transparan warna putih. Mbah Mbatu sendiri merupakan nama panggilan Pangeran Rojoyo yang merupakan putra Sunan Kadilangu, cucu Sunan Mulyo, dan cicit Sunan Kalijogo. Ia melakukan penyebaran agama Islam dengan cara berkumpul bersama warga untuk membahas dan berdiskusi tentang Islam. Pangeran Rojoyo termasuk penyebar agama Islam yang terkenal, sehingga mendapat julukan Syekh Abul Ghonai...

Puasa lelaku dalam ke ilmuan jawa

   Puasa pada hakikatnya adalah tidak makan dan tidak minum, namun selain itu juga puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu yang membelenggu dalam diri manusia.      Puasa sendiri berasal dari bahasa arab yang pengucapan nya adalah syium atau shoim dan shaum. Yang bahasa jawa sendiri adalah siam atau poso.     Dalam kebudayaan jawa puasa ini sudah ada sejak zaman kerajaan pada waktu itu sebagai contoh ketika zaman kerajaan majapahit prabu gajah mada juga melakukan puasa untuk mencapai keinginan nya menyatukan nusantara dan mengucapkan sumpah palapa.     Sebelum islam masuk pulau jawa puasa ini di jadikan metode untuk mendekatkan diri pada sang hyang widi ataupun juga untuk suatu amalan keilmuan seperti kanuragan, rawa rontek, pancasona dan masih banyak lagi ke ilmuan yang lain nya.     Dengan syarat tertentu puasa untuk ke ilmuan ini banyak sekali macam nya di antara nya adalah.: 1. Puasa Mutih...

Makam mbah patok / petilasan mpu supo

Makam mbah patok  Ki Ageng Puspo atau Mbah Pathok. Dikenal sebagai murid Mbah Mbatu atau biasa di sebut pangeran Rojoyo, penyiar Islam di Batu. Setelah meninggalkan kerajaan Mataram, dia begabung mendapingi syiar Isalam Mbah Mbatu. Ki Ageng Puspo sangat patuh kepada Mbah Mbatu. Saat mendatangi makam Ki Ageng Puspo di kawasan Songgoriti Kota Batu. Makam itu cukup bagus dan terawat seperti makam pemuka agama Islam, makam ini trerletak dalam sebuah bangunan. Mbah Pathok dimakamkan di banguanan yang mirip rumah bercat kuning dipandu hijau, kondisinya sangat bersih, terlihat selalu di rawat secara rutin. Ki Ageng Puspo datang kedaerah Batu sekitar abad ke 18. Sebenarnya beliau adalah salah seorang prajurit Mataram kala itu.  sedang dilanda perang melawan belanda, tapi kemuidian, Ki Ageng Puspo menyusul Mbah Mbatu ke daerah Batu. Dia turut membantu penyiaran Islam di Kota Apel tersebut.  Kebanyakan dulu di sisni belum beragama Islam ujar Supardi juru kunci ma...